ASSALAMUALAIKUM WR.WB

WELCOME, ENJOY THE BLOG

Sunday, 24 February 2013

tetap suka hujan

19/02/2013 11:30

Rama, hujan sekarang suka "alay" ya? Kadang deres, kadang rintik galau. Bisa aja abis deres hebat campur angin kenceng, tapi setelahnya kering total dan matahari terik muncul. Mungkin di tempatmu hujan, sebaliknya tempatku panas membara. Atau gantian, tempatku hujan, tapi tempatmu panas terik.

Tapi Rama, aku suka sama hujan. Suka sama baunya itu. Memang banyak yang bilang itu bau debu dan gak ada bagus-bagusnya, tapi buatku itu bau khas yang unik. Seger. Rama, hujan itu romantis; ngeliat butiran hujan turun, ngeliat semua basah kena hujan dan ngamatin bulir air turun perlahan di jendela yang kena hujan. Nanti kita liat hujan lagi ya? :)

ketika dulu

Hai. Apa kabar kamu di sana? Menyapamu kali ini bukan bermaksud untuk mengulang apa yang kita sudahi. Bukan. Sama sekali bukan. Aku hanya sekedar ingin tahu kabarmu. Itu saja.

Semakin berjalan ke sini. Terlalu banyak pertanyaanku tentang apa yang sudah dan belum terjadi. Entah mengapa saat itu kau begitu kuat membawaku ke duniamu--yang nyatanya sangat awam bagiku yang belia saat itu. Kamu memerkenalkan duniamu dengan penjelasan yang tergesa-gesa dan kurang menarik. Sayang, kamu kurang sabar menurutku. Kamu tak tahu siapa "murid"mu saat itu.

Aku tak mengerti. Terlalu banyak pertanyaan di dalam otakku yang masa itu masih ingin tertawa lepas saat mengejar capung di padang rumput. Aku mau muntah. Pusing tak bisa berpikir.

Kapasitas otakku tak sanggup menampung pertanyaan kenapa kamu begitu ingin aku seperti maumu. Menjadi aktris dalam skenario buatanmu. Wajar jika aku terdiam, aku kurang napas. Aku kelelahan. Namun, kamu anggap jika aku tak berniat untuk melanjutkan perjalanan.

Aku terlalu sering terjatuh di tartan lintasan larimu. Na'asnya kamu hanya bertolak pinggang melihatku dari kejauhan bukannya membantuku bangun.

Lantas aku juga menyadari kebodohanku yang tak lekas mengungkapkan semuanya. Aku adalah prajurit yang takut melapor pada jendralnya karena aku masih amatiran. Dan kamu tak menyadari lemahnya prajuritmu ini.

Hingga pada akhirnya, aku menemui titik jenuh pada reaksi kimiaku. Dia membeku dan tak bisa terpakai. Walau banyak percobaan untuk membangkitkan reaksinya, tapi gagal total.

Satu hal yang memang sangat kusayangkan. Sayang, kamu hanya kurang sabar. 07/02/2013 15:11

Sunday, 4 November 2012

apa kabar guruku?

pribahasa yang bilang kalo guru kencing berdiri murid kencing berlari itu agak jleb sebenernya karena ternyata jadi guru itu gak mudah, pake banget lagi. kukira, itu segampang dulu pas aku(pura-pura)jadi guru untuk anak-anak di komplek rumahku. kukira mah cuma ngajarin tambah-tambahan, kali-kalian,bikin kalimat. as simple as those.

baru sekarang ngerasain ternyata itu berbanding terbalik. yang aku rasain dulu itu cuma sepersekian mili meter dari apa yang seharusnya guru punya pas mau ngajar.

cuma mau bikin soal aja, seorang guru harus lulus mata kuliah ET Assessment yang ngapalin rumus-rumus ngitung yang namanya validitas sama reliabilitas. kupikir kuliah ini gak bakal lah ketemu sama itungan, aku nyerah juga. aku harus ketemu. to be or not to be.

gak usah bikin soal,deh,tapi ke masalah sistem ngajar yang ternyata musti lulus mata kuliah BK dulu. biar gak jadi guru yang sembarangan dan semaunya sendiri. harus ngerti juga kondisi dan kemauan belajar muridnya.

segala mau ngajarin percakapan, bikin kalimat, cara bikin paragraf aja gak bakal berhasil kalo gak paham mata kuliah ET Method. dengan segudang metodenya, guru musti ngerti cara yang tepat untuk ngajarin muridnya.

bakal harus banyak banget persyaratannya untuk cuma bisa ngajar. yang menurut sebagian orang--yang kurang paham--dipandang sebagai kerjaan yang gampang.

makanya salut buat guru-guru yang punya dedikasi tinggi buat muridnya. yang mau jadi pengajar dan pendidik profesional sesuai dengan bidangnya.

yang gak ninggalin muridnya kalo gak ngerti.

yang kedatangannya selalu ditunggu sama murid.

yang kepergiannya jadi mimpi buruk buat muridnya.

yang bertanggung jawab sama pekerjaannya.

yang gak "makan" gaji buta.

yang selalu menemani muridnya "berjalan" walau tertatih sekalipun.

yang ngejadiin kerjanya sebagai ibadah.

karena jadi guru gak bisa sembarangan transfer ilmu. salah konsep sedikit aja bisa ngerusak peradaban dunia. makanya guru itu pekerjaan mulia dan emang bener tanpa tanda jasa. kalo di mata kuliah prose itu bisa dibilang anti-hero. berjasa banget,tapi cuma sebagian orang yang ngehargain perjuangan mereka.

semoga di kemudian hari makin banyak guru-guru yang berdedikasi tinggi untuk kemajuan murid-muridnya. amin =)

"terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. semua baktimu akan kuukir di dalamm hatiku. sebagai prasasti t'rimakasihku 'tuk pengabdianmu. engakau sebagai pelita dalam kegelapan. engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. engkau patriot pahlawan bangsa. tanpa tanda jasa" nn

tetap semangat

Memang melelahkan menjadi kamu. Sedihnya aku tak bisa selalu banyak membantu. Minimal menyiapkan minummu atau mungkin perlengkapanmu.

Aku juga tak ada ketika kamu berlaga. Hanya bisa berdoa dari jarak berjuta-juta. Sederhana saja. Semoga Allah memberi rezeki terbaik-Nya.

Karena yang aku bisa hanya menunggumu di garis finis. Barharap kamu selalu semangat dan menemuiku dengan senyum manis. Tiar

31/10/2012

Monday, 29 October 2012

simply

Bahagia itu semudah menggenggam uang koin 500 rupiah. Iya, tak perlu cara rumit untuk melakukannya.

Menurutku, aku tak perlu makanan yang mahal seharga emas berlian. Aku cukup senang hanya dengan menikmati harum telur ceplok untuk dimakan dengan nasi hangat dicampur kecap manis.

Aku tak perlu pergi jalan-jalan ke luar negeri dan menghabiskan banyak dollar. Aku cukup memandangi langit, berjalan sore, menikmati lampu jalan saat malam, berlari dikejar ombak di pinggir pantai dan melihat pemandangan saat pulang.

Bagiku itu sudah membuatku bersyukur untuk bisa melihat kuasa Allah. Kan bahagia itu sederhana. Bukan begitu, Rama? :)

Monday, 15 October 2012

secret admirer

Ah, aku seperti anak TK yang tahu jika hari ini adalah hari Sabtu, senangnya luar biasa. Mungkin aku bisa berjingkrak girang kalau saja aku tak sadar umurku yang tak lagi muda.

Aku serasa baru memang undian milyaran rupiah karena sangking girangnya. Kurasakan jantungku berdebar kencang, hampir tak terkendali. Rasanya mulut ini tak bisa berhenti tersenyum.

Aku hampir lupa ini jam berapa dan hari apa ini. Hampir terambil semua konsentrasiku.

Ah, aku kenapa? Aku sedang apa? Mengapa aku berdiri bersandar tiang? Pertanyaan saat aku sadar.

Tapi, aku sadar, aku selalu saja sadar. Aku sangat sadar jika aku sedang mengamatimu yang ada di sana. Kamu yang sedang tak pernah mengamatiku seperti aku mengamatimu. Tak tersenyum bersamaku yang berasandar di tiang yang cat putihnya mulai luntur. Kamu yang selalu membuat aku salah tingkah padahal kamu hanya berjalan melewatiku. Dengan cara jalanmu yang konyol itu. Kamu yang membuat aku selalu mencarimu. Kamu yang selalu membuat aku senang kalau kamu senang. Kamu yang tak pernah tau kalau kamu pantas dikagumi. Kamu yang hanya bisa aku pandang tanpa bisa bilang.

Saturday, 15 September 2012

Ketika teman



Teman. Senyum. Tertawa. Senang. Sedih. Tangisan. Benci. Kecewa. Khianat. Memaafkan. Mengingatkan. Menyapa. Membantu. Melindungi. Mendengarkan. Membagi. Ikhlas. Sabar. Tak melupakan. Mengindahkan. Setia. Kamu. Aku. Dia. Kalian. Kita semua. Selamanya.