"kami tahu bagaimana perasaan kalian.
sungguh menyenangkan bisa menyukai orang lain.
memuja dan menyayangi dengan tulus.
kami tahu perasaan kalian yang telah memendam perasaan.
tapi apakah kalian pernah berpikir tentang kami?
kami manusia biasa.
yang punya perasaan memiliki begitu kuat akan sesuatu.
yang tak rela jika sesuatu itu digoda bahkan sampai diambil.
pernahkah kalian sadar, jika kalian sedang melakukan itu?
kami juga seperti kalian, berwujud sama seperti adanya kalian.
yang memiliki keinginan untuk mengutarakan perasaan yang lama tersimpan.
tapi apakah kalian tahu, jika yang kalian lakukan saat ini sungguh menyakitkan kami?
membuat kami menangis menahan perih karena dihianati kalian yang kami anggap teman sendiri.
kami pikir kalian teman kami.
teman yang bisa menjaga perasaan temannya.
kami tahu, kalian berhak untuk menyampaikannya.
tapi, apa itu yang membuat kalian sampai tak peduli pada hak kami?
hingga tega melakukannya.
kami mencoba melihat dari sisi kalian.
mencoba menjadi kalian untuk menghayati benar apa yang kalian rasakan.
tapi tak sampai hati kami untuk berrbuat demikian.
sungguh kami tak kuat hati.
kami sama seperti kalian.
pernah mengalami hal serupa.
tapi tolong jangan ganggu kami dengan apa yang kalian sebut dengan "hak".
itu telah berlalu dan tak mungkin kembali.
cukup pada waktu itu dan tidak untuk saat ini dan selamanya.
kami yakin kalian orang baik.
yang bisa memikirkan mana yang benar dan mana yang salah.
yang harusnya tidak menyakiti hati orang lain tanpa merasa bersalah kemudian.
kami tahu kalian punya perasaan,kan?
coba kalian jadi kami, betapa hidup ini begitu tak menyenangkan ketika kalian datang mengganggu.
kami berharap kalian mengerti.
harus mengerti.
hak kami lebih kuat di sini.
hak untuk menjaga apa yang kami punya.
kami yakin otak dan hati kalian masih berfungsi baik."
ASSALAMUALAIKUM WR.WB
WELCOME, ENJOY THE BLOG
Tuesday, 6 September 2011
Saturday, 13 August 2011
tiar: jangan terlalu jauh
"Kamu itu anak ibu perempuan satu-satunya.
cuma kamu teman ibu.
ibu tak ingin kamu terlalu jauh dari ibu.
kamu tahu, ibu selalu mendoakanmu di setiap saat.
Kamu itu mudah sekali sakit.
badanmua begitu rentan dan mudah terserang.
ibu tak ingin menjadi sulit untuk mengunjungimu nanti.
Ibu sangat mengandalkanmu.
siapa yang akan ibu mintai tolong jika kamu jauh.
Ibu gampang sekali rindu.
akan menjadi mudah buat ibu untuk ibu bertemu denganmu jika kita dekat.
ibu tak pernah menghalangimu,nak.
tapi, ibu ingin yang terbaik untukmu.
apa yang ibu doakan itu bukan semata untuk keinginan ibu.
itu semua untuk kebaikanmu sendiri.
ibu tak mau di kemudian hari terjadi sesutau yang akan menyulitkan dirimu.
di manapun itu, sejatinya ibu selalu mendukungmu. anak kesayangan ibu yang paling cantik.
ibu tak pernah mengekang apalagi melarang mimpimu.
ibu selalu sayang dirimu, nak.
percayalah, seorang ibu tak akan pernah ingin anaknya tak bahagia.
inilah yang terbaik dari Allah.
pahamilah
*Di awal memang semua terlalu terlihat tak sesuai. saat mimpi yang seharusnya dibentuk sendiri, ini malah dipilihkan.
semua berjalan dengan terpaksa, tanpa ada rasa ikhlas.
mencoba mengatur dan membentuk kembali, tapi malah dianggap tak mensyukuri.
padahal setiap orang punya kesempatan masing-masing.
menganggap jahat dan berpihak sebelah atas keputusan yang telah terjadi.
hingga akhirnya menemukan titik balik, yang mencerhakan gelap.
mungkin kata ibu benar. saya mencoba menyimpulkan sendiri.
mungkin ini jalan terbaik untuk saya.
bukan untuk siapa-siapa.
Allah Maha Mengetahui apa yang hamba-Nya butuhkan, bukan yang dia inginkan.
terima kasih ibu, aku sayang ibu*"
Tuesday, 9 August 2011
tiar: dialog tembok
hai tembok?
Apa kabarmu?
Aku sendirian, tidak kedinginan.
semuanya terjadi seperti biasa.
ya sudahlah, aku malas menuntut banyak.
Tiap orang punya hidup masing-masing,kan?
Seperti lirik lagu,
"biarku yang mengalah, aku terima"
Aku sangat terima.
Ya, sangat amat.
Aku terbiasa untuk itu, tembok.
Aku Terbiasa untuk bilang "ya, gak pa2 kok,nyantai aja" walau aku tau hatiku sangat sakit dan aku ingin berteriak dan berkata "kamu itu jahat banget si!!!", tapi itu hanya ada di imajinasiku, bukan di dunia nyataku.
Aku tak mau mereka tahu betapa jahatnya mereka kepadaku. Akhirnya aku cuma bisa tersenyum.
Senyum Monalisa-yang tak tau artinya bahagia atau bersedih-
Aku sekarang jadi suka membiarkan.
Aku mencoba untuk tak peduli lebih dalam dan selalu menggunakan kata mengapa di setiap kalimat.
Aku tak mau jadi ibu yang selalu mau ingin tahu apapun itu.
Aku ingin menjadi apatis.
Menjadi awan yang berarak sendirian di langit.
Menjadi embun yang menetes perlahan di daun.
Aku ingin tak peduli.
Namun, itu bukanlah aku.
yang suka khawatir.
Suka ingin tahu dan terlibat.
Suka mendengarkan dan menyimak.
Bukan yang sepintas lalu.
Hei tembok, masih terlalu banyak yang ingin disampaikan.
Tapi aku enggan bercerita banyak.
Aku jadi enggan berbagi padamu.
Aku enggan membagi isi kepalaku.
Ya sudah.
Aku terbiasa seperti ini.
Ditinggal lagi.
Walau mungkin aku sangat berusaha untuk tidak meninggalkan.
Terakhir, aku tak butuh tanggapan! Aku pinjam pundakmu, aku mau menangis.
Apa kabarmu?
Aku sendirian, tidak kedinginan.
semuanya terjadi seperti biasa.
ya sudahlah, aku malas menuntut banyak.
Tiap orang punya hidup masing-masing,kan?
Seperti lirik lagu,
"biarku yang mengalah, aku terima"
Aku sangat terima.
Ya, sangat amat.
Aku terbiasa untuk itu, tembok.
Aku Terbiasa untuk bilang "ya, gak pa2 kok,nyantai aja" walau aku tau hatiku sangat sakit dan aku ingin berteriak dan berkata "kamu itu jahat banget si!!!", tapi itu hanya ada di imajinasiku, bukan di dunia nyataku.
Aku tak mau mereka tahu betapa jahatnya mereka kepadaku. Akhirnya aku cuma bisa tersenyum.
Senyum Monalisa-yang tak tau artinya bahagia atau bersedih-
Aku sekarang jadi suka membiarkan.
Aku mencoba untuk tak peduli lebih dalam dan selalu menggunakan kata mengapa di setiap kalimat.
Aku tak mau jadi ibu yang selalu mau ingin tahu apapun itu.
Aku ingin menjadi apatis.
Menjadi awan yang berarak sendirian di langit.
Menjadi embun yang menetes perlahan di daun.
Aku ingin tak peduli.
Namun, itu bukanlah aku.
yang suka khawatir.
Suka ingin tahu dan terlibat.
Suka mendengarkan dan menyimak.
Bukan yang sepintas lalu.
Hei tembok, masih terlalu banyak yang ingin disampaikan.
Tapi aku enggan bercerita banyak.
Aku jadi enggan berbagi padamu.
Aku enggan membagi isi kepalaku.
Ya sudah.
Aku terbiasa seperti ini.
Ditinggal lagi.
Walau mungkin aku sangat berusaha untuk tidak meninggalkan.
Terakhir, aku tak butuh tanggapan! Aku pinjam pundakmu, aku mau menangis.
Sunday, 24 July 2011
nothing
di awal, aku senang berada di sini, ini tempat yang dari dulu ingin aku datangi.(karena aku tak pernah pergi sejauh ini sebelumnya.hehe)
aku juga senang pergi ke suatu tempat yang baru, bahakan ini ke tempat yang aku inginkan,
tapi, ntah mengapa esensi senangnya menjadi berubah total ketika aku melakukan sesuatu yang tidak aku sukai. terlalu panjang sebenarnya mengapa aku tidak suka akan hal itu.
di dahulu sekali, aku memang tak memilih ini sebagai pilihan utama, tapi ntah mengapa (lagi-lagi_ aku dipilihkan untuk melakukan ini. dan dengan setengah hati aku memilih ini. inilah akhirnya yang terjadi padaku sekarang.
apa yang terjadi sekarang sebenarnya buka salah siapa-siapa. tak ada yang harus disesali. tapi aku menyayangkan kenapa aku harus melakukan ini.
astaghfirullahaladzim...
apakah ini sia-sia ya, Allah Ya Rahman Ya Rahiim?
apa yang terjadi sekarang adalah hal yang akan memberikan dampak di kemudia hari?
ya Allah...
mohon maaf atas segala kesalahanku.
aku juga senang pergi ke suatu tempat yang baru, bahakan ini ke tempat yang aku inginkan,
tapi, ntah mengapa esensi senangnya menjadi berubah total ketika aku melakukan sesuatu yang tidak aku sukai. terlalu panjang sebenarnya mengapa aku tidak suka akan hal itu.
di dahulu sekali, aku memang tak memilih ini sebagai pilihan utama, tapi ntah mengapa (lagi-lagi_ aku dipilihkan untuk melakukan ini. dan dengan setengah hati aku memilih ini. inilah akhirnya yang terjadi padaku sekarang.
apa yang terjadi sekarang sebenarnya buka salah siapa-siapa. tak ada yang harus disesali. tapi aku menyayangkan kenapa aku harus melakukan ini.
astaghfirullahaladzim...
apakah ini sia-sia ya, Allah Ya Rahman Ya Rahiim?
apa yang terjadi sekarang adalah hal yang akan memberikan dampak di kemudia hari?
ya Allah...
mohon maaf atas segala kesalahanku.
Wednesday, 6 July 2011
Nantikanku di batas waktu
Di kedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata
Sungguh walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan
Reff :
Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang nanti
Kubawa kau pergi kesyurga abadi
Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanku dibatas waktu
*Edcoustic*
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata
Sungguh walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan
Reff :
Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang nanti
Kubawa kau pergi kesyurga abadi
Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanku dibatas waktu
*Edcoustic*
Tuesday, 24 May 2011
tiar: inilah kita, jauh

"aku memang tak pernah menyesal dengan "jauh"nya kita. aku tak pernah mempermasalahkannya, membuatnya sebagai sesuatu yang serius dan patut untuk dikeluhkan, karena aku suka sendiri ke mana-mana. merasakn semua dengan diri sendiri.
tapi, di kemudian hari, ternyata itu menjadi sesuatu yang cukup serius dan di luar dugaan.
bertahan di sini, memang tak mudah. terlalu banyak yang akan "menarik"ku darimu. terlalu banyak orang yang tak suka dengan sikapku yang terus bertahan menunggu.
aku memang tak pernah mengira ini semua akan terjadi. aku tak pernah membayangkan apa yang aku harus lakukan jika memang benar terjadi. dan, benar saja, aku hanya bisa diam. ya, diam, itu sikap bijak yang kurasa bisa kuambil kali ini. aku biarkan mereka melakukan apa yang mereka suka. biarkan mereka senang dengan "mainan" mereka. nati kalau mereka lelah, juga akan berhenti.
aku tahu, setiap pilihan pasti akan ada konsekuensinya, ntah itu jauh ataupun dekat. inilah kita sekarang, jauh, dengan segala konsekuensinya dari pilihan kita.
aku tak pernah menyesal dengan ketidak adanya dirimu di sini. aku tak mau egois dengan mementingkan perasaanku sendiri untuk menahanmu di sini lantas tak boleh pergi. aku masih punya akal sehat untuk bisa menentukan. tapi, aku sekarang gontai untuk berjalan, mereka cukup membuatku goyah. cukup membuatku tersentak tak berdaya. tolong bantu aku, kuatkan aku, tahan aku, agar aku tak pergi, setidaknya tak ada niat untuk itu. aku hanya takut mereka akan berhasil membawaku pergi ke tempat yang akupun tak tahu di mana.
akhirnya, aku berusaha sekuat mungkin, semoga aku tak ter"tarik". kemudian aku hanya bisa berkata dalam anganku, kalau saja kamu di sini, mereka tak akan melakukan ini, tak akan berkata tentang itu, dan tak akan terpikir untuk yang tadi.
ya inilah kita, jauh. meskipun begitu aku berusah tegar"
Monday, 2 May 2011
tiar: apa yang terjadi kemudian?
"aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, ketika mereka memutuskan untuk berjalan masing-masing. memang aku tak mengalaminya -karena aku terlalu belia untuk merasakannya, tapi aku juga merasa "sesak" hatinya.
semua terjadi secepat kilat menyambar di saat hujan deras dengan angin kencang dan awan yang sangat mendung. tak ada yang bisa memprediksi sampai akhirnya seperti ini. semua menganggap akan berakhir pada kebahagiaan yang sudah direncanakan. tapi, inilah yang membuktikan adanya kuasa Allah yang Maha dasyat, rencana manusia belum tentu sesuai dengan rencana Allah.
memang tak ada keburukan yang terjadi hingga bisa seperti ini. semua tampak tenang dan baik-baik saja. hingga akhirnya ini muncul dan menghancurkan segalanya. menghancurkan masa indah, menghancurkan rencana manis, dan menghancurkan harapan bahagia.
aku yang hanya bisa mendengar ceritanya juga sampai bisa berkaca-kaca, aku sampai tehenyak, dan bertanya pada diriku sendiri. apa ini akan menimpaku? Ya Allah, tolong jangan, aku belum siap mental. aku tak bisa membayangkan ketika memang harus benar-benar terjadi padaku.
sampai detik inipun, aku masih memikirkannya. apa jadinya jika aku juga mengalaminya? apa yang harus aku lakukan? apa yang akan terjadi kemudian?
tentunya aku harus melanjutkan hidupku, tentu dengan perasaan tertatih karena merelakan sesuatu pergi tanpa ada badai yang menghancurkannya. sekali lagi mungkin aku akan menguatkan diriku walaupun sendirian. aku yakinkan jika Allah punya rencana yang sangat-amat benar-benar jauh lebih baik daripada yang aku rencanakan. aku percaya Allah tak pernah meleset dalm memberikan sesuatu pada hambaNya.
tapi, namanya manusia, rasa khawatir dan pilu itu wajar. namun tetaplah dalam batas kewajaran.
akhirnya, walau nanti aku tak memilihmu dan kau tak memilih aku. percayalah itu rezeki terbaik dari Allah.
Jazakallahu khaira"
semua terjadi secepat kilat menyambar di saat hujan deras dengan angin kencang dan awan yang sangat mendung. tak ada yang bisa memprediksi sampai akhirnya seperti ini. semua menganggap akan berakhir pada kebahagiaan yang sudah direncanakan. tapi, inilah yang membuktikan adanya kuasa Allah yang Maha dasyat, rencana manusia belum tentu sesuai dengan rencana Allah.
memang tak ada keburukan yang terjadi hingga bisa seperti ini. semua tampak tenang dan baik-baik saja. hingga akhirnya ini muncul dan menghancurkan segalanya. menghancurkan masa indah, menghancurkan rencana manis, dan menghancurkan harapan bahagia.
aku yang hanya bisa mendengar ceritanya juga sampai bisa berkaca-kaca, aku sampai tehenyak, dan bertanya pada diriku sendiri. apa ini akan menimpaku? Ya Allah, tolong jangan, aku belum siap mental. aku tak bisa membayangkan ketika memang harus benar-benar terjadi padaku.
sampai detik inipun, aku masih memikirkannya. apa jadinya jika aku juga mengalaminya? apa yang harus aku lakukan? apa yang akan terjadi kemudian?
tentunya aku harus melanjutkan hidupku, tentu dengan perasaan tertatih karena merelakan sesuatu pergi tanpa ada badai yang menghancurkannya. sekali lagi mungkin aku akan menguatkan diriku walaupun sendirian. aku yakinkan jika Allah punya rencana yang sangat-amat benar-benar jauh lebih baik daripada yang aku rencanakan. aku percaya Allah tak pernah meleset dalm memberikan sesuatu pada hambaNya.
tapi, namanya manusia, rasa khawatir dan pilu itu wajar. namun tetaplah dalam batas kewajaran.
akhirnya, walau nanti aku tak memilihmu dan kau tak memilih aku. percayalah itu rezeki terbaik dari Allah.
Jazakallahu khaira"
Subscribe to:
Posts (Atom)